Breaking News
07:43
Advertisement

KDM  Tantang Asep Surya Atmaja: Jadi Bupati Harus Punya Nyali, Kalau Sudah Maju Jangan Mundur

Resmi Jadi Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja Dapat Sejumlah Arahan Prioritas Dari Dedi Mulyadi Kyu
Bagikan
Lihat Tersimpan

Jumat 23 Oktober 2026

BEKASI (AINGJABAR.COM) – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan pesan tegas kepada Asep Surya Atmaja agar tidak menjadi pemimpin yang hanya sibuk di balik meja kantor. Sebaliknya, Bupati Bekasi yang baru dilantik itu diminta memiliki keberanian, integritas, dan kesungguhan untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.

“Menjadi Bupati Bekasi harus punya nyali, harus punya integritas. Kalau sudah maju jangan mundur,” tegas Dedi Mulyadi saat melantik Asep Surya Atmaja sebagai Bupati Bekasi untuk sisa masa jabatan 2025–2030 di Gedung Pakuan, Bandung, Jumat (23/10/2026).

Gubernur yang akrab disapa KDM itu juga mengingatkan Asep agar tidak menjadi bupati kantoran yang hanya mengandalkan laporan dari jajaran birokrasi. Ia meminta Asep lebih banyak turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi wilayah dan perkembangan kehidupan masyarakat.

“Jadilah bupati jalanan, bupati selokan, bupati sawah. Muter setiap hari lihat perkembangan yang ada di masyarakat,” pesan KDM.

Pernyataan tersebut menjadi penekanan bahwa kepemimpinan daerah tidak cukup dijalankan melalui rapat, administrasi, dan laporan di atas meja. Seorang kepala daerah harus berani menghadapi persoalan secara langsung, mengambil keputusan, serta memastikan setiap kebijakan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Punya Nyali, Berintegritas, dan Tidak Boleh Mundur

Pesan KDM tentang keberanian dan integritas menjadi tantangan tersendiri bagi Asep Surya Atmaja dalam menjalankan amanah sebagai Bupati Bekasi.

Memimpin Kabupaten Bekasi bukan perkara ringan. Daerah yang dikenal sebagai salah satu pusat industri dan kawasan penyangga ibu kota ini memiliki beragam persoalan pembangunan yang membutuhkan perhatian serius, mulai dari infrastruktur jalan, penanganan banjir, pengelolaan lingkungan, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.

Di tengah kompleksitas persoalan tersebut, seorang kepala daerah dituntut memiliki keberanian mengambil keputusan sekaligus menjaga integritas dalam menjalankan kewenangannya.

Keberanian yang dimaksud bukan sekadar tampil di depan masyarakat atau menyampaikan janji. Lebih dari itu, nyali seorang pemimpin diuji ketika harus menentukan prioritas, menindaklanjuti persoalan yang berlarut-larut, serta memastikan kebijakan berjalan sesuai kepentingan publik.

Sementara itu, integritas menjadi landasan agar kewenangan dan kebijakan pemerintah tetap berpihak pada kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Pesan “kalau sudah maju jangan mundur” juga dapat dimaknai sebagai dorongan agar Asep konsisten menjalankan agenda pembangunan dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Namun, keberanian tersebut harus tetap diiringi perencanaan yang matang, kepatuhan terhadap aturan, serta tanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Jangan Jadi Bupati Kantoran

Selain menekankan nyali dan integritas, KDM meminta Asep membangun pola kepemimpinan yang dekat dengan kondisi nyata masyarakat.

Istilah “bupati jalanan” menggambarkan pemimpin yang aktif memantau perkembangan wilayah. Sementara “bupati selokan” menegaskan pentingnya perhatian terhadap drainase, kebersihan lingkungan, dan persoalan yang berpotensi memicu banjir.

Adapun sebutan “bupati sawah” mengingatkan pentingnya menjaga sektor pertanian, keberlangsungan lahan produktif, dan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor tersebut.

Bagi Kabupaten Bekasi, pendekatan semacam ini relevan karena pertumbuhan kawasan industri dan permukiman harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur yang memadai serta pengelolaan lingkungan yang baik.

Kepala daerah perlu mengetahui secara langsung kondisi jalan, saluran air, kawasan permukiman, dan lahan pertanian agar kebijakan yang diambil tidak semata-mata berdasarkan laporan administratif.

Dengan turun ke lapangan, persoalan yang selama ini dikeluhkan warga diharapkan dapat lebih cepat teridentifikasi. Perangkat daerah pun dapat didorong untuk bekerja lebih responsif dan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.

Meski demikian, kunjungan lapangan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Setiap temuan harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret, target penyelesaian, dan evaluasi yang jelas.

Tantangan Membuktikan Kepemimpinan

Pelantikan Asep Surya Atmaja sebagai Bupati Bekasi untuk sisa masa jabatan 2025–2030 menjadi momentum penting untuk memperkuat arah pembangunan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Pesan Dedi Mulyadi sekaligus menjadi pengingat bahwa jabatan kepala daerah menuntut lebih dari sekadar kemampuan mengelola birokrasi. Dibutuhkan keberanian menghadapi persoalan, integritas dalam mengambil keputusan, serta konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Kini, tantangan bagi Asep adalah membuktikan pesan tersebut melalui kerja nyata. Masyarakat menantikan langkah konkret dalam menangani persoalan infrastruktur, banjir, lingkungan, pertanian, dan berbagai kebutuhan pelayanan publik.

Keberhasilan kepemimpinan tidak cukup diukur dari seberapa sering seorang bupati hadir di tengah masyarakat. Yang lebih penting adalah sejauh mana kehadiran itu menghasilkan perubahan dan penyelesaian persoalan.

Pesan KDM pun tegas: menjadi Bupati Bekasi harus punya nyali dan integritas. Ketika sudah melangkah untuk membangun daerah, jangan mundur menghadapi tantangan.

Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang berani berbicara, tetapi juga pemimpin yang berani bertindak, teguh menjaga integritas, dan mampu membuktikan hasil kerjanya. ( augus Suzana)

Penulis

admin@123

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *